Kamis, 18 Juni 2009

makalah pertanian

PEMBERDAYAAN PETANI TANAMAN PANGAN HORTIKULTURA KELUAR DARI LINGKARAN SETAN SOSIAL EKONOMI

MAKALAH

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pengantar Ilmu Pertanian Semester II

Disusun Oleh:

1. Dewi Perayanti (085001020)

2. Imam Alvi Yashin (085009001)

3. Rio Aditya (085091012)

4. Ilman Fatoni (085001008)

5. Cucu Nur Maolana (085009015)

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAAN

UNIVERSITAS SILIWANGI

TASIKMALAYA

2009

LEMBAR PENGESAHAN

Makalah yang berjudu “Kerjasama Atas Lahan Pertanian” ini telah diterima Pada hari.................tanggal.......................

Oleh

Dosen mata Kuliah Pendidikan Agama Islam

KATA PENGANTAR

Puji syukur panjatkan kehadirat alloh swt, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulisa penulisan telah mampu menyelesaikan makalah yang berjudul “Perdayaan Petani Tanaman Pangan dan Hortikultura Keluar Lingkaran Setan “ makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pangantar Ilmu Pertanian dalam menempuh ujian akhir semester

Dimasa lalu, memang pembangunan pertanian di Indonesia dipandang sebagai upaya sistematis peningkatan produksi di subsistem budidaya atau usahatani pertanian (On –farm agribusiness). Paradigma pembangunan ekonomi yang menerapatkan pertanian sebagai sektor pendukung yang tangguh bagi pembangunan sektor industri juga masih memandang pertanian yang dimaksud sebagai kegiatan budidaya atau usaha tani (farming). Dalam makalah ini akan didiskusikan bagaimana fenomena tersebut terjadi pada petani tanaman pangan dan hortikultura, apa penyebabnya dan bagaimana pemberdayaaan meraka untuk keluar dari lingkaran setan tersebut.

Penulis menyadari bahwa selama penulisan banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Ibu HJ. Rina Nuryati, Ir. MP, selaku dosen mata kuliah Pengantar Ilmu Pertanian.
  2. Kepada rekan-rekan seangkatan yang telah memotivasi penulis untuk menyelesaikan penyusunan makalah ini.
  3. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebut satu persatu.

Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih banyak kekurangan, baik dalam hal ini maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh sebab itu, penulis sangat mngharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangundalam penyempurnaaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan manfaat khususnya bagi penulis umumnya bagi pembaca. Amiin.....

Tasikmalaya, 6 juni 2009

Penuli

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kegiatan ekonomi yang berbasis pada tanaman pangan dan holtikultura merupakan kegiatan yang sangat penting (stategis)di Indonesia. Disamping imelibatkan tenaga kerja terbesar dalam kegiatan produksi, produkny juga merupakan bahan pangan pokok dalam komsumsi pangan di Indonesia. Sebagai kedudukannya sebagai bahan pangan pokok, produk tanaman pangan dan holtikultura menjadi fakto utama dalam menentukan biaya hidup di Indonesia sedemikian rupa, sehingga memungkinkan biaya tenaga kerja dalam stuktur biaya produksi barang dan jasa tergolong terendah di dunia. Dilihat dari sisi bisnis, kegiatan ekonomi yang berbasis tanaman pangan dan holtikultura merupakan kegiatan bisnis terbesar dan tersebar luas di Indonesia. Peranannya sebagai penghasil bahan pangan pokok, mnyebabkan setiap orang dari 200 juta lebih penduduk Indonesia terlihat setiap hari dalam kegiatan ekonomi tanaman pangan dan holtikultuara.

Ironisnya, para petani tanaman pangan dan holtikultura berada pada kegiatan bisnis terbesar, kehidupan sosial ekonomi mereka masih tetap tertinggal dari kelompok masyarakat lainnya. Bahkan ada kecenderungan bahwa petani tanaman panagn dan holtikultura terperangkap dalam lingkaran setan sosial- ekonomi bentuk modern. Bentuk modern lingkaran setan sosial- ekonomi ini berada dengan fenomena lingkaran setan sosial-ekonomi tradisional, yang umum di temui pada wilwyah-wilayah pertanian terbelakang. Bila pada fenomena lingkaran setan sosial- ekonomi tradisioanl ini disebabkan permodalan dan penguasaan teknologi yang rendah sehingga poduktifitas, pendapatan, dan pembentukan modal rendah, maka pada fenomena lingkaran setan sosial ekonomi modern justru terjadi pada kondisi permodalan, penguasaan tenologi, dan produktifias fisik yang relatif tinggi, namun nilai moneter prouktifitasnya rendah sebagai akibat harga yang diterima petani relatif renda. Akibatnya, pendapatan petani tetap rendah. Keadaan yang demikian ini dapat kita telusuri dari pembangunan ekonomi petaniyang berlangsung selama ini.

B. Rumusan Masalah

Bagian ini berisi pembahasan masalah yang akan di bahas pada BAB II. Berikut rumusan masalah:

  1. Ekonomi usaha tani dan paradoks produktifitas
  2. Ketahanan Pangan
  3. Pemberdayaan Ekonomi Petani

C. Tujuan Makalah

Maka;ah ini disusun untuk mengetahui paradigma baru dalam pembangunan ekonomi berbasis pertanian, serta mendeskripsikan penyebab dan pemberdayaan produksi pangan dan holtikultura untuk keluar darin lingkaran setan yang membuat petani Indonesia sangat sengsara dengan hasil produksi yang rendah dan merugikan bagi kehidupannya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Ekonomi Usaha Tani dan Paradoks Produktifitas

Tragedi kekurangan pangan, khususnya beras yang dialami bangsa kita pada akhir orde lama telah mempengaruhi keputusan politik pembangunan pertanian sejak awal orde baru. Keputusan politik pembangunan pertanian yang dimaksud adalah mempercepat peningkatan produksi pangan, khususnya beras. Dalam politik pertanian yang berorientasi peningkatan produksi, pembangunan teknologi, pengembangan organisasi dan kelembagaan petani, pengambangan stuktur dan kelembagaan pertanian pedesaan serta kebijakan harga dan tataniaga ditujukan untuk meningkatkan dan menyelamatkan produksi pertanian.

Sedangkan nilai tambah yang dinikmati oleh petani pada usaha tani semakin diperkecil pula oleh struktur non usaha tani yang dispersal, asimetris, dan cenderung terdistorsi, sehingga menimbulkan masalah transmisi (pass trough problems)seperti transmisi yang tidak simetris. Penurunan harga ditingkat konsumen di transmisikan dengan cepat dan sempurna kepada petani, sedangkan nilai harga ditrnsmisikan dengan lambat dan tidak sempurna. Disamping itu, informasi pasar, seperti prefensi konsumen, ditahan dan bahkan digunakan untukmengeksploitasi petani. Masal tersebut menjadi lebih parah karena sifat produk usaha tani yang cepat rusakdan petani tidak memiliki teknologi penyimpanan. Akibatnya, harga yang diterima petani tetap remdah . Pada kondisi yang demikian, petani menghadapi suatu paradoks produktifitas. Semakin meningkat produktifitas ( produksi) usaha tani, semakin besar nilai tambah yang dinikmati oleh mereka yang berada pada non usaha tani, sehingga tingkat pendapatan rill petani semakin tertinggal dari tingkat pendapatan mereka yang berada pada non usaha tani.

Dalam kondisi paradoks tersebut, segala upaya yang dilakukan untuk meningkatkan prouksi pertanian seperti perbaikan teknologi, kebijakan harga, kebijakan perkreditan, dan bahkan pembangunan saran dan prasarana pertanian pedesaan, sebagian besar manfaatnya dinikmati oleh mereka yang berada di non usaha tani. Sehinggawajar apabila mereka cepat bertumbuh menjadi pengusaha menengah hingga konglomerat yang kita kenal dewasa ini. Sementara petani hanya bisa mengeluh, menjalini kehidupan ekonomi yang terjerumus pada lingkaran seta sosial-ekonomi bentuk modern. Dengan nilai rendah, berarti juga pendapatannya relatif rendah, maka pembentukan modal pada usaha tani tidak berjalan. Meskipun sumber permodalan eksternal dapat memenuhi kebutuhan modal petani dan teknologi budidaya telah mereka kuasai, tetapi tetap pendapatan yang di akibatkannya tetap rendah. Maka tetap saja kondisi sosial ekonomi mereka tidak banyak berubah. Bahkan banyak diantara petani kita harus “ gali lobang tutup lobang” dalam pembiayaan usaha taninya.

  1. Ketahanan Pangan

Bagi bangsa Indonesia, dengan jumlah penduduk tahun 1997mencapai 200 juta jiwa dan pada tahun 2020, diperkirakan akan mencapai sekitar 220 juta jiwa, pengadaan pangan merupakan merupakan persoalan serius. Pengalaman sejarah Pembangunan Indonesia menunjukan bahwa masalah ketahan pangan (food security) sangat erat kaitannya dengan stabilitas ekonomi (khususnya inflasi), biaya produksi ekonomi agregat (biaya hidup), dan stabilitas sosial politik nasional. Oleh karena itu, ketahan pangan menjadi syarat mutlak bagi penyelenggaraan pembangunan nasional.

Pengolahan ketahanan pangan menyangkutaspek-aspek berikut:

1. Penyediaan jumlah bahan-bahan pangan yang cukup untuk memenuhi permintaan pangan yang meningkat baik karena pertambahan penduduk, perubahan komposisi penduduk maupun akibat peningkatan pendapatan penduduk.

2. Pemenuhan tuntutan kualitas dan keanekaan bahan pangan untuk mengantisipasi perubahab preferensi konsumen yang semakin peduli pada masalah kesehatan dan kebugaran.

3. Masalah pendistribusian bahan-bahan pangan pada ruang (penduduk yang terbesar pada sekitar 10000 pulau) dan waktu (harus tersedia setiap hari sepanjang tahun).

4. Masalah keterjangkauan pangan (food accessibility), yakni ketersediaan bahan pangan (jumlah, kualitas, ruang dan waktu) harus dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat.

Disamping bahan pangan yang semakin mahal (sehingga diperlukan devisa yang lebih besar), juga belum tentu tersedia sebesar jumlah yang kita butuhkan di pasar Internasional. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi bangsa Indonesia untuk menjamin ketahan pangan, kecuali dari produksi domestik.

C. Pemberdayaan Ekonomi Petani

Untuk memberdayakan ekonomi petani, kita perlu terlebih dahulu mengubah politik pembangunan pertanian yang berorientasi peningkatan produksi ke politik pembangunan pertanian dengan pendekatan agribisnis. Dengan pendekatan agribisnis, maka segala upaya, yang dimasa lalu hanya tertuju pada usaha tani dan kurang pada non usaha tani, akan semakin berimbang dalam arti membangun dan mengembangkan usaha tani dan non usaha tani secara simultan dan terkoordinasi dalam satu sistem terintegrasi. Dengan demikian, terbuka kesempatan untuk memfasilitasi petani untuk dapat merebut nilai tambah yang ada pada kegiatan non usaha tani. Namun demikian, untuk menjamin nilai tambah dari kegiatan non usaha tani dapat dinikmati petani maka pembangunan pertanian dengan pendekatan agribisnis harus diikuti pengembangan koperasi agribisnis sebagai organisasi bisnis petani.

Bila pembangunan pertanian dengan pendekatan agribisnis yang disertai dengan pengembangan koperasi agribisnis dapat di berhasilkan, maka kita bukan hanya menarik petani keluar dari linhkaran setan sosial ekonomi, tetapi juga sekaligus membangun agribisnis nasional yang berdaya asing, alasannya adalah:

1. Pendekatan agribisnis yang disertai dengan pengembangan koperasi agribisnis mampu menghilangkan paradoks produktifitas ditingkat usaha tani, sehingga dapat keluar dari lingkaran setan sosial ekonomi. Setiap peningkatan produktifitas akan disertai oleh peningkatan pendapatan, baik bersumber dari nilai tambah usaha tani maupun non usaha tani melalui kopersai.

2. Dengan menghadirkan koperasi agribisnis pada non usaha tani yang mempunyai ikatan institusional dengan petani, antar koperasi, maupun dengan perusahaan swasta dan BUMN, akan mampu menghilangkan masalah transmisi harga dan margin ganda. Dengan demikian, harga saprotan yang diterima petani akan lebih murah sehingga merangsang ekspansi usaha tani.

3. Hilangnya masalah transmisi harga akan mengintegrasikan ekonomi petani dengan ekonomi non petani. Kenaikan pendapatan non petani akan meningkatkan konsumsi produk akhir agroindustri yang umumnya bersifat elastis terhadap perubahan pendapatan. Hal ini akan meningkatkan pendapatan petani melalui koperasinya.

4. Karena nilai tambah pada non usaha tani sebagian jatuh ke tangan kopersai petani, maka mereka mampu mempercepat pemupukan kapital koperasi sehingga akan mampu memandirikan petani beserta koperasinya.

BAB III

KESIMPULAN

Dalam pembahasan makalah tersebut dapat disimpulkan bahwa politik pembangunan pertanian yang berorientasi peningkatan produksi dan “memfasilitasi” petani untuk berada pada usaha tani telah mengakibatkan petani terperangkap paradoks produktifitas. Untuk petani keluar dari kondisi yang demikian, kita perlu mengubah paradigma pembangunan agribisnis, dengan pendekatn agribisnis berarti kita telah membuka peluang bagi petani untuk merebut nilai tambah. Pendekatan agribisnis perlu disertai dengan pengembangan organisasi bisnis petani yaitu: kopersai agribisnis, baik kopersai primer maupun koperasi sekunder, agar mampu berperan sebagai aktor utama pada kegiatan non usaha tani. Dengan demikian, nilai tambah yang ada pada non usaha tani dapat direbut para petani dimasa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar